Rumah Residen Baru Pemerintah Daerah Miaoli

Berita Terbaru
  • Tema: Kasus demam berdarah dari luar negeri terus bertambah di Taiwan — terapkan langkah pencegahan gigitan nyamuk selama berada di luar negeri — kalau ada gejala tidak enak badan setelah pulang, segera periksa ke dokter
  • Tanggal pembaharuan: 2026.08.14      

Badan Pengendalian Penyakit Taiwan (CDC) menyampaikan bahwa wabah penyakit yang ditularkan nyamuk seperti demam berdarah masih terus terjadi di berbagai negara, dan belakangan kasus demam berdarah di negara-negara tetangga di Asia Tenggara meningkat sehingga risiko tertular di luar negeri jadi lebih tinggi. Menurut prakiraan cuaca, fenomena El Niño berpotensi menguat dalam beberapa bulan ke depan, ditambah sekarang sedang musim ramai liburan sekolah. Karena itu CDC mengimbau masyarakat menerapkan langkah pencegahan gigitan nyamuk selama berada di luar negeri, dan kalau dalam 14 hari setelah pulang muncul gejala tidak enak badan, segera periksa ke dokter serta sampaikan riwayat perjalanan agar memudahkan diagnosis.

 

CDC menjelaskan, pekan lalu (28 Juli–3 Agustus) di Taiwan tercatat 8 kasus baru demam berdarah dari luar negeri, 3 di antaranya merupakan klaster penularan di Kamboja. Para penderita dalam klaster ini berusia belasan sampai 30-an tahun, terdiri dari 2 pria dan 1 wanita, yang pada pertengahan Juli tahun ini pergi bersama ke Kamboja untuk kegiatan pertukaran. Setelah pulang pada akhir Juli, mereka satu per satu mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, dan nyeri di belakang bola mata, lalu dinyatakan positif setelah diperiksa. Instansi kesehatan terkait sudah membersihkan sumber sarang nyamuk dan melakukan pengendalian dengan bahan kimia di tempat tinggal serta tempat kegiatan para penderita, dan terus memantau kondisi kesehatan anggota kelompok lainnya.

 

Data pemantauan CDC menunjukkan, sampai 3 Agustus tahun ini Taiwan mencatat total 111 kasus demam berdarah yang terkonfirmasi. Sebanyak 7 di antaranya kasus lokal yang semuanya berdomisili di Kota Kaohsiung, sedangkan 104 kasus lainnya berasal dari luar negeri, seluruhnya dari negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Terbanyak dari Indonesia dengan 24 kasus, disusul Vietnam 23 kasus dan Maladewa 15 kasus. Jumlah kasus tahun ini masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 130 kasus.

 

Wabah demam berdarah di dunia juga masih berlanjut. Sampai Juni tahun ini, secara global tercatat lebih dari 1,58 juta kasus, terutama di Benua Amerika, dengan jumlah kasus terbanyak di negara seperti Brasil, Kolombia, dan Bolivia. Di negara-negara tetangga di Asia, seperti Sri Lanka, Vietnam, Malaysia, Kamboja, Laos, dan Bangladesh, kasusnya juga naik belakangan ini dan umumnya lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sri Lanka tahun ini sudah melaporkan lebih dari 84.000 kasus, sementara wabah di Kamboja juga naik cepat dengan lebih dari 28.000 kasus dilaporkan sepanjang tahun ini.

 

CDC mengingatkan, saat beraktivitas di luar ruangan baik di dalam maupun di luar negeri, sebaiknya pakai pakaian lengan panjang dan celana panjang berwarna terang, serta gunakan obat antinyamuk (repelen) yang sudah disetujui instansi pemerintah dan mengandung bahan aktif efektif seperti DEET, Picaridin, atau IR-3535, untuk mengurangi risiko digigit nyamuk.

 

Karena wabah demam berdarah di Asia Tenggara dan Asia Selatan masih berlangsung, Kementerian Perhubungan sudah meminta bantuan pelaku usaha wisata untuk lebih gencar mengingatkan wisatawan agar melakukan pencegahan gigitan nyamuk selama di luar negeri dan memantau kesehatannya setelah pulang. Saat tiba kembali di Taiwan, kalau mengalami gejala yang mengarah ke demam berdarah seperti demam, sakit kepala, nyeri di belakang bola mata, atau nyeri otot dan sendi, segera beri tahu petugas karantina di bandara. Fasilitas kesehatan juga perlu lebih waspada, konsisten menanyakan TOCC (riwayat perjalanan, pekerjaan, kontak, dan klaster), serta memakai alat tes cepat NS1 demam berdarah bila diperlukan untuk membantu diagnosis dan melapor sedini mungkin.

 

Selain itu, suhu udara di Taiwan belakangan panas dan di berbagai daerah sesekali turun hujan pada siang menjelang sore, kondisi yang mendukung nyamuk pembawa penyakit berkembang biak. CDC mengimbau masyarakat menjalankan gerakan “periksa, kuras, bersihkan, sikat”: rutin memeriksa rumah dan lingkungan sekitar, lalu membuang wadah yang berpotensi menampung air seperti tatakan pot tanaman, ban bekas, dan kantong plastik. Wadah bekas berukuran besar bisa dilaporkan ke dinas kebersihan setempat untuk dibantu penanganannya, sedangkan wadah dan tempat penyimpanan air yang masih dipakai harus rutin disikat dindingnya untuk membersihkan telur nyamuk, lalu diperiksa lagi setelah hujan.

 

Sekolah di semua jenjang juga perlu terus memperhatikan lingkungan sekolah selama libur musim panas. Wadah yang menampung air harus segera dibersihkan, terutama kloset dan tangki air di toilet yang lama tidak dipakai karena mudah menjadi tempat jentik berkembang. Pemeriksaan rutin perlu dilakukan untuk menekan risiko berkembangnya nyamuk pembawa penyakit.

Informasi seputar demam berdarah bisa dilihat di situs web resmi CDC, atau dengan menghubungi hotline pencegahan penyakit bebas pulsa 1922 (0800-001922).